"Hey, what are you doing here?" Pertanyaan itu langsung terlontar padaku begitu saja saat saya 'tanpa sengaja' berpapasan dengan beliau di depan pintu sebuah ruangan. Saya kikuk. "Morning, sir," sapaku seraya menyalami beliau. Ia tampak semacam terperangah heran. "You're not supposed to be here anymore, are you?" lanjutnya sambil menyerngitkan keningnya. Ia kemudian tersenyum. Hangat, namun tak se-menyenangkan senyum-senyumnya sebelumnya. Seakan sebuah senyum yang mengejekku. Sudah lama sekali rasanya tidak berjumpa dengan beliau. Saya pun tak begitu ingat kapan terakhir kali melihat senyum pria yang kerap kali mengajakku berbincang ringan pada tiap kesempatan bertemu dengannya ini.
Saya diam saja, memandang wajah teduh itu. Senyum kecut pun terlukis di wajahku. Menangkap ekspresi dan raut kebingungan di mukanya itu, saya semakin salah tingkah. Ia lalu menatapku dalam-dalam, mencari tahu. Seakan saya begitu bertanggung jawab atas pertanyaannya yang bertubi-tubi itu. "Well.. I'm just left behind, I guess," jawabku seenaknya sambil menggaruk kepala bagian belakang yang sebenarnya tidak gatal. Entah. Seolah hanya beberapa kata itu yang bisa saya katakan. Ia menarik lengan kiri kemejanya, terlihat arloji disana. Ia dengan sigap mengangkat jari telunjuknya agak ke atas, tapi tidak sepenuhnya vertikal, mengarah padaku, lalu merentangkan semua jarinya. Saya pun mengangguk, siap menunggu.
Pria itu berbalik, kembali masuk ke ruangan. Setelah menyampaikan beberapa kata pada orang-orang di dalam sana, tak lama kemudian ia pun keluar. Banyak mahasiswa di belakangnya, juga keluar dari ruang kuliah itu. Sedikit suara riuh di antara mereka. Iya, tepat pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Menandakan berakhirnya jam kuliah dari pria ini. Ia baru saja memberi semacam soal latihan. Tanpa ragu beliau meraih bahuku, merangkul dan menuntun untuk mengiikutinya. Kami pun berjalan beriringan dengan semua orang disana, menyusuri lorong yang sangat familiar bagi kami, menjauhi pintu. Sesekali saya menimpali sapaan beberapa dari adik kelasku itu.
"Your friends have already left this university." Ia membuka perbincangan serius. Saya tahu benar apa maksudnya. "I know you're a smart student. It's impossible to see that you are still here." Ia menarik nafas dalam-dalam. Don't waste your time doing the other things, my boy. Focus!" Saya tertegun sejenak. Langkah kami pun terhenti. Ia melepaskan tangannya dari bahuku. "Tell me about your research progress. Anything wrong? I'm still actually wondering what happened to you." Terdengar kata terakhir -you- itu begitu ditekankannya. Kembali saya tersenyum. Ada rasa bersalah dan malu juga sebenarnya.
No comments:
Post a Comment
Please give your comments here: