Friday, November 15, 2013

Another Short Story

"Siapa sih?" suara itu kencang. Sekencang ia memukul bahuku dengan telapak tangan kanannya.

"Sakit ah," balasku singkat. "Mau tahu aja." Tapi aku tidak melihat ke arahnya. Sedari tadi rupanya ia memperhatikan mimik mukaku yang "mencurigakan" ini. Memang, sejak baru tiba disini, kemudian duduk, lalu mrmesan kopi, mataku hampir tak pernah kualihkan dari layar hape. Jemariku sibuk menari di atasnya. Sesekali aku tersenyum (sendiri). Jangankan ngobrol, kopi di hadapan wajahku sekali pun belum kusentuh.

Kulirik dia, temanku ini. Dia berada tepat di sebelah kiriku, satu tempat duduk denganku. Di bangku panjang yang terbuat dari kayu. Kulihat juga mangkok bakso di hadapannya. Tinggal kuahnya saja. Aku hanya memesan kopi, tak lebih.

"Kopimu sudah dingin,"
katanya sambil membakar ujung rokok yang menggelayut di bibirnya. Dia menaikkan kaki sebelah kanannya ke atas. Jadi terlihat dia seolah sedang memeluk pahanya.

Sambil menyalakan pemantik, "Katanya tadi ngantuk, kok belum juga diminum?" Rokok itu bergoyang-goyang seperti ujung stik joran pancing yang sedang mengangkat anak ikan Nila. Mulutnya tak sepenuhnya terbuka, karena menahan rokok itu agar tak jatuh, sementara dia bicara. Tapi kata-katanya cukup jelas di telingaku. Sia-sia, tak satu pun kalimat-kalimat tanya darinya mendapat balasan memuaskan. Hanya kujawab 'Iya.', 'Nanti saja.' 'Iya.' Begitu saja. Aku sibuk membalas kata demi kata tanya dari seseorang yang lain di ujung sana.

Benda yang ada di genggamanku ini memang benar-benar telah menyita perhatianku.
Selesai. Kuakhiri dengan "Iya, nanti sore ketemu disana, ya," via Facebook Chat App.  Kumasukkan lagi hape itu ke dalam kantong celana.

Warkop itu masih lengang. Masih terlalu pagi. Kuambil sendok dari dalam tempatnya di atas meja itu untuk mengaduk kopiku sebelum akhirnya aku meminumnya. Iya, sudah dingin ternyata. Pahitnya begitu kental di lidah. Ah aku lupa kapan terakhir kali minum kopi yang ditambahi gula.
"Mantap kopinya, buk deh!" teriakku pada wanita setengah baya yang sedang mencuci piring, mangkok dan gelas-gelas di ujung sana. Ia hanya tersenyum. Terlalu sibuk juga.
"Siapa?" Ari mengulang pertanyaannya yang tadi.

(to be continued).

No comments:

Post a Comment

Please give your comments here: